
Di suatu malam yang cerah, hiduplah sebuah keluarga harmonis yang kadang-kadang suka berisik (biasa, mami gue) sedang panik dan tergesa-gesa.
"Mamaaaaas! Buka pager! Mami sama papi mau ke kantor!"
"Ke kantor? Ngapain?"
"Kita sekeluarga pindah ke Manado."
Jwegerrrrr!!!!
Lambung gue serasa mau copot, jantung gue serasa mau muntah. Malem-malem, lagi asik-asik maen game di ha-pe, eh tiba-tiba ada kabar yang sangat tidak menyedapkan sama sekali. Mau gak mau, gue harus ikutan pindah. Tetapi, alangkah senangnya hatiku pas gue denger kalimat dari mami gue yang tumben bikin hati gue seneng.
"Mas, kamu gak usah ikut pindah. Tanggung, kamu udah mau kelas 3."
Yes! Yes Sir! Yes man! Yessica Iskandar!
Begitulah secara singkatnya, gue gak jadi pindah...
Jadi, sebagai gantinya, waktu gue barusan selesai melaksanakan Ulangan Hard fuckin Science, gue langsung cabut kumis jenggot ke Manado.
Bagi kalian para blogger yang belum tau Manado kayak apa, ntar gue ceritain di segmen selanjutnya.
---Hari ke-3 di Manado kota Tinutuan
Gue sama adek gue, si Lala, abis pulang dari Mantos (Manado Town Square).Kita pulang naek angkot yang disulap sama orang Manado jadi super keren abis manis sepah dibuang. Angkotnya GOKIL! Tapi, di segmen ini, gue gak cerita soal angkot GOKIL ini, ntar di segmen selanjutnya. Hahahahahahahahahahahahah!!!
Rumah gue di Jalan Elim, Malalayang, Manado.
Waktu gue lagi di angkot, yang cuma ber-empat sama sopir dan temennya si sopir, gue ditanya ama tuh sopir.
"Ngoni asal mana?"
Yang kalau di terjemahkan ke Bahasa Indonesia berbunyi, "Kamu berasal darimana?". "Saya berasal dari Jakarta.". Harusnya gue jawab itu, tapi berhubung suara di jalanan yang berisik, atau gue yang rada-rada budi alias Budeg Dikit ini.
Gue 100% gak tau si sopir ngomong apaan. Gue tanya sama adek gue.
"La, tadi tanya apaan?". Dengan sotoynya, adek gue ngejawab,
"Ooo, mau turun dimana.".
Dengan begonya, gue percaya omongan adek gue yang 100% sotoy. Tanpa pikir lebar, gue jawab aja pertanyaan tuh sopir angkot.
"Di jalan Elim, sebelah Gereja Elim, setelah lampu merah.".
.........
Keadaan di angkot sempet hening, kosong, seperti pantat bolong. Tiba-tiba gue liat si sopir angkot senyam-senyum mrenges-mringis-mrongos sendiri.
Gue curiga. Gue duduk agak maju. Persis di belakang si sopir yang suka senyam-senyum sendiri. Dia tanya lagi,
"Maksudnya, ngoni asalnya darimana?"
OoOoOoOoOoOoO. Ternyata si sopir tanya asal gue.
Itulah dia, cerita kesotoyan gue dan adek gue di sebuah angkot di Manado di Sulawesi di Indonesia. Buat para pembaca, diharapkan jangan mencontoh kesotoyan gue dan adek gue ini dimanapun kalian berada. Tapi, lucu juga ya? Bayangin, kita asalnya dari situ. Tiba-tiba nongol dari tanah, di pekarangan rumah orang. Trus, ada anak dari komplek situ bilang,
"Mama, lihat! Ada orang muncul dari tanah di Jalan Elim, sebelah Gereja Elim, Setelah lampu merah! Orangnya gak pake baju lagi, Ma! Iiiih, apa itu, Ma? Koq goyang-goyang gitu?"
Bisa jadi kasus kan?
Once more, gue himbau ke semua blogger, kalau kurang jelas akan suatu informasi, jangan asal diterima gitu aja. Siapa tau informasi itu adalah informasi rencana peledakkan warung remang-remang di seluruh belahan Indonesia?
Kitorang samua barsaudara





